BARCELONA, Spanyol, 14 Maret 2026 /PRNewswire/ — Di MWC 2026, Andy Hicks, Senior Principal Analyst, GlobalData, meluncurkan laporan resmi (white paper) "Reinventing Voice: A Converged, AI-Enabled, and Multimodal Voice Core for the Next Generation of Telecommunications". White paper ini menyoroti bahwa di era kecerdasan buatan (AI), operator telekomunikasi dapat memanfaatkan jaringan layanan suara yang sepenuhnya terintegrasi untuk mengembangkan layanan AI dan mengubah nilai tambah layanan suara.
Networks Jaringan Layanan Suara Terintegrasi: Solusi Ideal bagi Pihak Operator dengan Jaringan Multi-Generasi
Seiring perkembangan pesat 5G-Advanced (5G-A), evolusi standar jaringan global masih belum merata. Meski jaringan 2G dan 3G mulai memasuki masa akhir penggunaannya, sebagian operator masih harus mempertahankan kedua jaringan tersebut guna mendukung layanan penting seperti komunikasi M2M dan roaming internasional. Dalam kondisi ini, jaringan layanan suara yang sepenuhnya terintegrasi mampu menangani layanan 2G, 3G, 4G, dan 5G sehingga menjadi semakin berperan penting bagi pihak operator. Jaringan tersebut turut mengatasi berbagai tantangan operasional yang muncul dari siklus hidup teknologi jaringan sekaligus mempersiapkan fondasi untuk evolusi jaringan di masa depan.
Selain itu, di tengah tren global menuju teknologi containerization, arsitektur jaringan yang terintegrasi memperlancar transisi dari virtual machines (VM) ke container. Pendekatan ini membantu operator menekan total cost of ownership (TCO) sekaligus mempertahankan inovasi berkelanjutan dan pembaruan layanan suara yang lebih cepat.
AI + Layanan suara: Transformasi Nilai Tambah Layanan Suara dalam Tiga Tahap
Perkembangan pesat AI membuka peluang baru untuk inovasi layanan suara. Menurut Andy Hicks, integrasi mendalam antara AI dan layanan suara dapat tercapai melalui tiga tahap utama.
Tahap pertama, AI digunakan untuk meningkatkan pengalaman panggilan suara dasar dan menciptakan keunggulan dibandingkan aplikasi OTT. Salah satunya, fitur peredam kebisingan cerdas (noise suppression) dan pengalaman audio spasial yang lebih imersif sehingga komunikasi melalui layanan panggilan suara menjadi lebih berkualitas.
Tahap kedua, AI diintegrasikan ke dalam saluran audio untuk menghadirkan fitur inovatif seperti terjemahan seketika (real-time) dan ringkasan panggilan otomatis. Layanan ini tidak memerlukan perubahan tambahan pada perangkat pengguna. Dengan demikian, pihak operator dengan cepat menerapkan integrasi ini dan memperoleh keunggulan awal dalam inovasi layanan suara berbasiskan AI.
Tahap ketiga, AI diperluas ke saluran video dan data sehingga inovasi layanan suara berkembang dari satu jenis media menjadi layanan multimodal. Hal tersebut mendukung kemunculan berbagai layanan baru, seperti dukungan pelanggan interaktif dan asisten layanan kesehatan, serta mewujudkan konsep Call-as-a-Service.
Andy Hicks menekankan, pihak operator perlu memanfaatkan peluang yang dihadirkan AI. Dengan menjadikan jaringan suara terintegrasi sebagai fondasi, pihak operator mendorong inovasi layanan sekaligus menghidupkan kembali nilai inti layanan suara melalui kemajuan teknologi 5G-A dan AI.
Laporan selengkapnya dapat dibaca melalui tautan: INI.

















